Masuk perawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) memang terkesan seram. Kata gawat darurat yang tersemat di nama ruangan ini sebagai penyebabnya. Ruangan ini dipersiapkan untuk memberikan pertolongan pertama secepat-cepatnya.
Namun, pasien yang masuk ke ruangan ini ternyata tidak melulu dalam kondisi gawat. Seperti sore di awal September, aku berkunjung untuk memeriksakan hasil ekstraksi kuku jempol kaki kiri dan kanan karena cantengan di salah satu rumah sakit besar di kotaku.
Jumat, 26 September 2014
Imam dan Khotib Jumat
Bukan aku bermaksud untuk membandingkan. Bukan pula merasa diri paling baik. Tapi ini semua hanya sekedar mencurahkan kegelisahan saja.
Begini ceritanya. Setiap sholat Jumat di gedung tempat kantorku berada, pada saat khotib naik mimbar selalu menjadi perhatianku. Siapakah gerangan hari itu yang bertugas menjadi khotib dan imam.
Begini ceritanya. Setiap sholat Jumat di gedung tempat kantorku berada, pada saat khotib naik mimbar selalu menjadi perhatianku. Siapakah gerangan hari itu yang bertugas menjadi khotib dan imam.
Rabu, 03 September 2014
Oh, Tidak!
Tidak jelas rasanya, antara dongkol dan bete. Kejadian ini sungguh menjadi noda selama karier juru potretku. Pak Dahlan tidak muncul di note-ku.
Ceritanya, dalam salah satu ajang awarding untuk para marketer perusahaan negara di salah satu hotel di bilangan Kuningan. Aku mendampingi salah satu penggede perusahaan untuk menerima award. Ndilalahnya kamera yang biasa dipakai sedang dipinjam untuk tugas liputan yang lain. Untunglah masih ada back up kamera dari salah satu tim redaksi yang lain berikut orangnya. Jadilah aku berbekal Note 10.1 karena HTC dalam kondisi lowbat.
Ceritanya, dalam salah satu ajang awarding untuk para marketer perusahaan negara di salah satu hotel di bilangan Kuningan. Aku mendampingi salah satu penggede perusahaan untuk menerima award. Ndilalahnya kamera yang biasa dipakai sedang dipinjam untuk tugas liputan yang lain. Untunglah masih ada back up kamera dari salah satu tim redaksi yang lain berikut orangnya. Jadilah aku berbekal Note 10.1 karena HTC dalam kondisi lowbat.
Rabu, 27 Agustus 2014
Dari Kapal Fery ke Kapal Perang
Tidak terbayang
sebelumnya hal ini menjadi kenyataan.
Pengalaman kelas dua SMP dengan kawan bernama Saepudin berulang lagi,
tapi dengan rasa berbeda. Dulu, sewaktu
kami masih berseragam putih biru dengan celana pendek khas SMP. Sama-sama punya mimpi waktu kecil untuk
menjelajahi lautan, pergi berpetualang
dengan kapal laut.
Kamis, 21 Agustus 2014
Kala Itu
Lagu Bang Iwan mengalun lembut, Air Mata. ...jadikan telaga, agar tak usang mimpi panjang itu...begitu penggalan liriknya. Sejenak pikiranku menerawang ke peristiwa beberapa tahun lalu.
Adalah seorang kawan baik sewaktu mondok di ibu kota Banten yang saat itu menjadi teman seiring sejalan. Ia tinggal di daerah Ciputat. Sekolah menengah atas kami berbeda.
Adalah seorang kawan baik sewaktu mondok di ibu kota Banten yang saat itu menjadi teman seiring sejalan. Ia tinggal di daerah Ciputat. Sekolah menengah atas kami berbeda.
Selasa, 19 Agustus 2014
Selamat Jalan
Jika hidup kita adalah cerita dalam sebuah buku, cover depan adalah tanggal lahir, cover belakang adalah tanggal kematian. Setiap lembar halamannya, adalah apa yang kita lakukan setiap hari.
Kalimat di atas nampaknya pas dengan kejadian pagi ini. Jarum jam belum genap mengarah ke angka delapan pagi. Kurang dua puluh menit menurut jam HTC Desire-ku. Satu miskol nampak di pojok kiri atas. Sayang aku belum sempat membukanya karena Shuttle sudah tiba di depan Korlantas, dan aku harus turun.
Sebelum naik jembatan penyebrangan, aku sempatkan berhenti untuk membuka ponselku. Satu miskol dan satu pesan melalui whats app. Berita duka mampir pagi ini.
Adalah istri salah seorang pejabat di perusahaan tempatku bekerja meninggal pagi ini. Disebutkan pukul 7.30 di salah satu rumah sakit di Tasikmalaya. Innalillahi wainna ilaihi rojiun.
Aku sempat tertegun sejenak sebelum klik enter untuk mengirim whatsapp blast kepada karyawan lainnya. Rasanya, akhir-akhir ini aku sering kirim broadcast berita duka cita. Dan pagi ini aku kirim untuk kesekian kalinya.
Tentu saja ini merupakan tadzkiroh bagiku. Setiap orang sudah memiliki cover belakang dari buku hariannya.Hanya saja, kita tidak pernah tahu kapan takdir itu menghampiri.
Banyak yang tertipu dengan usia. Banyak yang tertipu dengan kesehatan. Sungguh, cover belakang tidak selalu berbanding lurus dengan keduanya. Kapan saja, kita tidak tahu.
Pesan yang bijak, jadilah orang yang cerdas. Dialah orang yang mengingat mati dan mempersiapkan bekalnya.
Semoga amal kebaikan almarhumah diterima di sisi Yang Maha Kuasa. Seperti pula niat kebaikannya untuk menunaikan ibadah haji yang q hitungan hari berangkat, pasti tercatat dengan tinta emas.
Untuk yang ditinggalkan, semoga diberi ketabahan. Banyak ibroh yang bisa diambil dari peristiwa ini. Mari isi buku harian kita dengan kebaikan, seraya berharap cover belakang kita khusnul khotimah.
Kalimat di atas nampaknya pas dengan kejadian pagi ini. Jarum jam belum genap mengarah ke angka delapan pagi. Kurang dua puluh menit menurut jam HTC Desire-ku. Satu miskol nampak di pojok kiri atas. Sayang aku belum sempat membukanya karena Shuttle sudah tiba di depan Korlantas, dan aku harus turun.
Sebelum naik jembatan penyebrangan, aku sempatkan berhenti untuk membuka ponselku. Satu miskol dan satu pesan melalui whats app. Berita duka mampir pagi ini.
Adalah istri salah seorang pejabat di perusahaan tempatku bekerja meninggal pagi ini. Disebutkan pukul 7.30 di salah satu rumah sakit di Tasikmalaya. Innalillahi wainna ilaihi rojiun.
Aku sempat tertegun sejenak sebelum klik enter untuk mengirim whatsapp blast kepada karyawan lainnya. Rasanya, akhir-akhir ini aku sering kirim broadcast berita duka cita. Dan pagi ini aku kirim untuk kesekian kalinya.
Tentu saja ini merupakan tadzkiroh bagiku. Setiap orang sudah memiliki cover belakang dari buku hariannya.Hanya saja, kita tidak pernah tahu kapan takdir itu menghampiri.
Banyak yang tertipu dengan usia. Banyak yang tertipu dengan kesehatan. Sungguh, cover belakang tidak selalu berbanding lurus dengan keduanya. Kapan saja, kita tidak tahu.
Pesan yang bijak, jadilah orang yang cerdas. Dialah orang yang mengingat mati dan mempersiapkan bekalnya.
Semoga amal kebaikan almarhumah diterima di sisi Yang Maha Kuasa. Seperti pula niat kebaikannya untuk menunaikan ibadah haji yang q hitungan hari berangkat, pasti tercatat dengan tinta emas.
Untuk yang ditinggalkan, semoga diberi ketabahan. Banyak ibroh yang bisa diambil dari peristiwa ini. Mari isi buku harian kita dengan kebaikan, seraya berharap cover belakang kita khusnul khotimah.
Bermasyarakat
Sore ini aku meluncur ke Masjid Jami di komplek
tempat tinggalku. Kebetulan aku menjadi salah satu pengurusnya. Dengan dikawal
Si Kakak, tibalah aku di masjid dalam rangka rapat.
Seperti telah diduga, jam karet berlaku juga dalam rapat ini. Jadwal rapat jam empat, akhirmya baru dibuka empat puluh menit kemudian. Tapi, tidak apalah yang penting lancar.
Agenda rapat kali ini nampak berat, pembentukan majlis ta'lim tingkat RW. Pesertanya, ibu-ibu koordinator di tingkat RT. Jadilah aku paling ganteng berdua dengan Pak RW (Pak Ketua dan pengurus lainnya berhalangan).
Pembentukan majlis ta'lim yang definitif ini isu cukup strategis. Selama perumahan ini berdiri enam tahun silam, majlis ta'lim bersama ini urung terwujud. Seiring dengan selesainya pembangunan masjid jami dan situasi yang kondusif, rencana ini akhirnya menemukan takdirnya.
Tidak seperti rapat dewan yang sedang memilih ketua dewan atau ketua komisi yang saling sikut. Masing-masing ibu-ibu di sini saling mempersilahkan untuk menjadi koordinator. Satu sama lain enggan karena khawatir tidak dapat menjalankan amanah dengan baik.
Akhirnya, tidak perlu waktu cukup lama ketua terpilih. Alhamdulillah.
Bermasyarakat, adalah fitrah manusia. Seperti didengungkan diliteratur oleh Aristoteles bahwa manusia adalah makhluk sosial. Begitupun dengan sebagian besar orang yang senang hidup bermasyarakat. Walaupun tidak sedikit saat ini yang lebih memilih individualis.
Almarhum ayahku memberi contoh, setidaknya saat ia meninggal dunia. Pelayat yang mengantar ke tempat peristirahatan terakhirnya mengular seolah tak berujung. Tentunya hal baik yang ditinggalkannya.
Pesannya secara tidak langsung, jadilah orang yang bermanfaat. Karena itulah sebaik-baiknya manusia.
Seperti telah diduga, jam karet berlaku juga dalam rapat ini. Jadwal rapat jam empat, akhirmya baru dibuka empat puluh menit kemudian. Tapi, tidak apalah yang penting lancar.
Agenda rapat kali ini nampak berat, pembentukan majlis ta'lim tingkat RW. Pesertanya, ibu-ibu koordinator di tingkat RT. Jadilah aku paling ganteng berdua dengan Pak RW (Pak Ketua dan pengurus lainnya berhalangan).
Pembentukan majlis ta'lim yang definitif ini isu cukup strategis. Selama perumahan ini berdiri enam tahun silam, majlis ta'lim bersama ini urung terwujud. Seiring dengan selesainya pembangunan masjid jami dan situasi yang kondusif, rencana ini akhirnya menemukan takdirnya.
Tidak seperti rapat dewan yang sedang memilih ketua dewan atau ketua komisi yang saling sikut. Masing-masing ibu-ibu di sini saling mempersilahkan untuk menjadi koordinator. Satu sama lain enggan karena khawatir tidak dapat menjalankan amanah dengan baik.
Akhirnya, tidak perlu waktu cukup lama ketua terpilih. Alhamdulillah.
Bermasyarakat, adalah fitrah manusia. Seperti didengungkan diliteratur oleh Aristoteles bahwa manusia adalah makhluk sosial. Begitupun dengan sebagian besar orang yang senang hidup bermasyarakat. Walaupun tidak sedikit saat ini yang lebih memilih individualis.
Almarhum ayahku memberi contoh, setidaknya saat ia meninggal dunia. Pelayat yang mengantar ke tempat peristirahatan terakhirnya mengular seolah tak berujung. Tentunya hal baik yang ditinggalkannya.
Pesannya secara tidak langsung, jadilah orang yang bermanfaat. Karena itulah sebaik-baiknya manusia.
Keriangan di Sabtu Pagi
Aku di sini! Teriak Si Kakak yang tiba-tiba
muncul dari balik boneka menekin dipojok ruangan toko. Yeahh...abi kalah lagi.
Sambil garuk-garuk kepala aku kembali berhitung satu sampai sepuluh. Sementara
si Kakak kembali menghilang di antara gantungan baju-baju.
Sementara itu Sang Adik yang beranjak 10 bulan sudah menclok di atas meja belajar. Waduh....
Umminya, selain sibuk dengan urusan negara, eh...kerjaan rumah tangga juga nyambi ngurusin toko busananya. Jadi dituntut benar-benar multitasking.
Bagi keluargaku yang tidak memiliki asisten rumah tangga, berbagi tugas menjadi hal biasa.
Seperti setelah main petak umpet ini, peran berikutnya adalah menjadi chef di dapur. Ya, menyiapkan sarapan dengan memasak di dapur (ada yang ngangetin juga sehhh). Sreng...sreng...goreng tahu, kentang balado dan semur daging kiriman kakak ipar yang baru menikahkan anaknya kemarin.
Untuk urusan masak memasak, sedikit banyak sudah mendapat pengakuan. Setidaknya pernah juara lomba masak nasi goreng dalam rangka Hut Perusahaan tahun lalu. Waktu itu duet dengan Udik (Ustadz Didik) menghasilkan nasi goreng khas mertua (colek Pak Dirkeu & Sdm Susilo Hertanto sebagai jurinya).
Setelah sarapan bareng, misi berikutnya adalah memandikan jagoan abi. Beugh...anak bungsuku semakin besar. Makin suka main air. Basah....basah...dan basah.
Kebersamaan di hari libur seperti ini kegiatan rutin. Belajar masuk ke dunia anak-anak dan menjadi sahabat mereka. Walaupun terkadang tampak menggelikan.
Menyenangkan karena hanya bisa dilakukan di saat hari libur saja karena hari biasa sudah disibukkan dengan urusan masing-masing. Apalagi tatkala melihat senyum mereka mengembang. Alhamdulillah.
Sementara itu Sang Adik yang beranjak 10 bulan sudah menclok di atas meja belajar. Waduh....
Umminya, selain sibuk dengan urusan negara, eh...kerjaan rumah tangga juga nyambi ngurusin toko busananya. Jadi dituntut benar-benar multitasking.
Bagi keluargaku yang tidak memiliki asisten rumah tangga, berbagi tugas menjadi hal biasa.
Seperti setelah main petak umpet ini, peran berikutnya adalah menjadi chef di dapur. Ya, menyiapkan sarapan dengan memasak di dapur (ada yang ngangetin juga sehhh). Sreng...sreng...goreng tahu, kentang balado dan semur daging kiriman kakak ipar yang baru menikahkan anaknya kemarin.
Untuk urusan masak memasak, sedikit banyak sudah mendapat pengakuan. Setidaknya pernah juara lomba masak nasi goreng dalam rangka Hut Perusahaan tahun lalu. Waktu itu duet dengan Udik (Ustadz Didik) menghasilkan nasi goreng khas mertua (colek Pak Dirkeu & Sdm Susilo Hertanto sebagai jurinya).
Setelah sarapan bareng, misi berikutnya adalah memandikan jagoan abi. Beugh...anak bungsuku semakin besar. Makin suka main air. Basah....basah...dan basah.
Kebersamaan di hari libur seperti ini kegiatan rutin. Belajar masuk ke dunia anak-anak dan menjadi sahabat mereka. Walaupun terkadang tampak menggelikan.
Menyenangkan karena hanya bisa dilakukan di saat hari libur saja karena hari biasa sudah disibukkan dengan urusan masing-masing. Apalagi tatkala melihat senyum mereka mengembang. Alhamdulillah.
Langganan:
Postingan (Atom)


